Minggu, 31 Mei 2015

laporan pakan alami Tubifex.sp

Laporan Praktikum MK Budidaya Pakan Alami

BUDIDAYA cacing sutera (Tubifex sp.)
Dengan perbedaan media waring dan Lumpur  
Di susun oleh :
Kelompok 5    :           Reviendra Safaringga
Zulfikar
Kinang
Kiki rizky ananda
Mutiara tam
M. Mulqan
Ichsan pratama
Sri wahyuni








JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2015


KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr .Wb.
            Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT yang dengan hidayah-Nya saya telah menyelesaikan Laporan Praktikum  Mata Kuliah Budidaya Pakan Alami (Tubifex sp.).
            Kami mengucapkan terima kasih kepada para asisten yang telah membimbing kami dalam kegiatan percobaan pada saat praktikum, kami berharap dengan adanya laporan ini dapat membantu kami bagaimana  untuk pembuatan wadah sampai menebar bibit dan panen cacing sutera.
            Kami menyadari mungkin masih banyak kekurangan dalam membuat sebuah laporan hasil dari analisa data, untuk itu kami menunggu kritik dan saran yang membangun untuk menambah kekualitasan sebuah laporan hasil dari sebuah penelitian atau pengamatan.






Darussalam, 23 Desember 2014
Penyusun


Kelompok 5





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
DAFTAR TABEL..................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR................................................................................................ iv
BAB I  PENDAHULUAN....................................................................................... 1
1.1  Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2  Tujuan Praktikum..................................................................................... 1
BAB II  TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 3
BAB III  METODELOGI KERJA........................................................................... 5
3.1 Waktu dan Tempat................................................................................... 5
3.2 Alat dan Bahan........................................................................................ 5
3.3 Cara Kerja................................................................................................ 6
3.4 Analisa Data............................................................................................. 6
BAB IV  HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................ 7
4.1 Hasil Pengamatan..................................................................................... 7
 4.2 Pembahasan............................................................................................. 7
BAB V  PENUTUP................................................................................................... 10
5.1 Kesimpulan .............................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 11
LAMPIRAN..............................................................................................................







DAFTAR TABEL

Tabel. 1           Alat dan Bahan                                                                                   5
Tabel. 2           Tingkat Kelangsungan Hidup Cacing Sutera Pada Berbagai Media Penanganan                                                                                          8


DAFTAR GAMBAR

Gambar. 1       Bagian tubuh ikan Nila yang terinfeksi oleh bakteri A. hydrophilla   9
Gambar. 2       Organ tubuh ikan bagian dalam yang mengalami (dropsi)                 10
Gambar. 3       Gejala yang timbul pada ikan Nila yang masih bertahan hidup          11

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Salah satu jenis pakan alami yang sangat yang dibutuhkan oleh para pembudidaya ikan hias maupun ikan konsumsi adalah cacing sutra Tubifex sp. Kebutuhan cacing sutra sangat meningkat khususnya pada tahap pembenihan. Selama  ini produksi cacing sutra yang dilakukan oleh para pencari cacing sutra hanya mengandalkan tangkapan dari alam. Kendala utama dalam mencari cacing sutra adalah faktor musim. Produksi cacing sutra menurun pada saat musim hujan, karena arus kuat yang dapat menghanyutkan cacing sutra yang berada di selokan/got. Musim kemarau juga dapat membuat produksi cacing sutra menurun dikarenakan air kering dan cacing sutra mati.
Seiring berkembangnya usaha pembenihan ikan, permintaan cacing sutra semakin meningkat, namun terbatasi oleh ketersediaan cacing sutra yang pasang surut dengan sangat fluktuatif. Produksi yang fluktuatif dapat berimbas pada harga cacing sutra yang sangat tinggi dan akhirnya berimbas pada harga benih ikan.
Solusi dari ketergantungan cacing sutra dari alam adalah dengan membuat usaha budidaya cacing sutra. Selain itu usaha budidaya ini dapat menyediakan cacing sutra secara berkelanjutan tanpa tergantung pada musim yang berlalu. Bahan organik dengan komposisi kotoran ayam dan lumpur halus dapat dimanfaatkan sebagai media tumbuh untuk cacing sutra. Untuk memenuhi kebutuhan makanan cacing dapat dilakukan pemupukan ulang dengan menambahkan kotoran ayam dan ampas tahu, hal ini juga dapat meningkatkan produksi populasi dan biomassa cacing sutra.
1.2  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukan praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh media lumpur halus, pupuk kotoran ayam dan ampas tahu terhadap pertumbuhan cacing sutra.
2. Untuk mengetahui pengaruh media waring terhadap pertumbuhan cacing sutra.




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Cacing Tubifex sp. sering disebut dengan cacing sutera, klasifikasi cacing sutera menurut Gusrina (2008) adalah :
Filum   : Annelida
Kelas   : Oligochaeta
Ordo    : Haplotaxida
Famili  : Tubifisidae
Genus  : Tubifex
Spesies: Tubifex sp.
Tubifex sp. dikenal dengan nama cacing rambut atau cacing sutera merupakan jenis pakan alami yang disenangi oleh benih ikan. Cacing Tubifex sp. ini biasanya hidup di saluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan organik yang dijadikan makanannya. Komposisi zat gizi yang terdapat pada Tubifex sp. yaitu protein 57%, lemak 13, 3% serat kasar 2,04% kadar air 87,19% dan kadar abu 3,6%. Tubuh cacing Tubifex sp. berukuran 5-15 mm, segmen-segmen tidak tampak (Priyambodo, 2000).
Cacing sutra memiliki segmen pada tubuhnya dan merupakan cacing air tawar (Goodnight, 1959). Umumnya cacing sutra membuat tabung pada dasar perairan dimana bagian posterior tubuhnya menonjol keluar dari tabung bergerak bolak-balik dengan melambai-lambai secara aktif di dalam air, sehingga terjadi sirkulsi air lalu ia akan mendapatkan oksigen melalui permukaan tubuhnya.  Bagian posterior tubuh yang bergetar pada cacing sutra dapat membantu  pernafasan (Wilmoth, 1967). Pengambilan oksigen terjadi pada bagian posterior tubuhnya sehingga Tubificid dapat bertahan beberapa hari bahkan beberapa minggu pada kondisi anaerobik (Rogaar, 1980).
Cacing sutra yang termasuk famili Tubificidae bereproduksi secara sexsual antara dua individu sama halnya dengan cacing tanah (Pennak, 1978). Kokon merupakan kantong telur yang  telah dibuahi dan kokon berisi rata-rata 4,15 telur. Panjang kokon 1,0 mm dengan diameter 0,7 mm dan berbentuk oval (Kosiorek, 1974). Menurut Kosiorek (1974), waktu yang dibutuhkan untuk perkembangan mulai dari telur hingga menjadi cacing muda sekitar 10-12 hari pada 24oC. Siklus hidup mulai dari penetasan hingga dewasa dan meletakkan kokonya yang pertama membutuhkan waktu 40-45 hari, sehingga siklus hidup dari telur menetas hingga menjadi dewasa dan bertelur lagi membutuhkan waktu 50-57 hari.
 Budidaya cacing sutera dapat dilakukan pada media organik, yaitu dalam campuran kotoran sapi (75%) dan pasir halus (25%) dengan waktu pemeliharaan 42 hari (Marian dan Pandian, 1984). Efiyanti (2003) membudidayakan cacing sutera menggunakan substrat yang berupa lumpur, kotoran ayam dan limbah usaha penangkapan cacing dengan populasi tertinggi didapat pada berat limbah organik 1000 gr pada hari ke 20.
Menurut Pondubnaya dan Sorokin (1961) dalam Monakov (1972) cacing tersebut hanya makan pada lapisan tipis di bawah permukaan pada kedalaman 2 cm – 5 cm. Dijelaskan pula bahwa pada lapisan tersebut banyak zat-zat makanan yang tertimbun akibat dekomposisi anaerobik. Jumlah makanan yang dikonsumsi  sehari-hari oleh cacing sutera rata-rata 2-8 kali bobot tubuh  (Monakov, 1972). Cacing sutera mencari makan dengan cara masuk ke dalam sedimen, beberapa sentimeter dibawah permukaan sedimen dan memilih bahan makanan yang kecil serta lembek (Morgan, 1980 dalam Isyaturradhiyah, 1992).
            Tingginya bahan organik dalam  media akan meningkatkan  jumlah bakteri dan partikel organik hasil dekomposisi oleh bakteri sehingga dapat meningkatkan jumlah bahan makanan pada media yang dapat mempengaruhi populasi dan biomassa cacing (Syarip, 1988). Pemupukan dapat dilakukan dengan memasukkan kotoran ayam yang dilakukan pada hari kesepuluh setelah inokulasi dengan perkiraan pupuk yang diberikan sebelumnya sudah mengalami dekomposisi (Yuherman, 1987).
BAB III
METODELOGI KERJA
3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum ini berlangsung di Laboratorium basah Panteriek Banda Aceh, yang dimulai dari tanggal 01 April 2015 pembuatan wadah, dan penebaran cacing sutera pada tanggal 11 April 2015 pada pukul 12.21 WIB. Lama pemeliharaan cacing sutera sekitar 1 bulan penuh, sehingga panen cacing sutera dilakukan pada tanggal 13 Mei 2015 pada pukul 10.46 -14.30.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang dapat digunakan dan mendukung pada saat praktikum adalah sebagai berikut :
Tabel. 1 Alat dan Bahan
No.
Nama Alat dan Bahan
Fungsi
1
Kayu
Kerangka wadah
2
Paku
Perekat kerangka
3
Palu
Alat bantu untuk menancapkan paku
4
Bor
Untuk membuat lubang pada kayu
5
Terpal
Tempat media
6
Waring
Media
7
Lumpur halus
Media
8
Ampas tahu
pupuk
9
Kotoran ayam
pupuk
10
Air
media
11
Kain
Pembungkus pupuk
12
Pipa
Jalan air mengalir
13
Pompa air
Untuk memompa air
14
Filter air
Menyaring air agar tetap bersih
15
Cacing sutera
Untuk ditebar sebagai bibit



3.3 Cara Kerja
Adapun cara kerja untuk untuk persiapan pembuatan wadah untuk budidaya pakan cacing sutera adalah sebagai berikut :
1.      Dipilih kayu yang akan digunakan sebagai kerangka wadah.
2.      Diukur dan dipotong kayu sesuai dengan kebutuhan.
3.      Dibuat kerangka wadah  sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan yaitu : panjang wadah 80 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 20 cm,  sebanyak  3 wadah, wadah pertama sebagai tempat media waring, wadah kedua tempat media lumpur halus dan wadah ketiga untuk tempat penampung air yang  akan dialirkan ke wadah pertama dan kedua.
4.      Dipasang terpal sebagai tempat media.
5.      Dilubangi terpal dan dipasang pipa sebagai outlet dan inlet air.
6.      Dipotong waring lalu dipasang pada wadah pertama.
7.      Ditabur lumpur halus sebanyak 3 cm  pada wadah kedua.
8.      Dihaluskan kotoran ayam lalu dicampur dengan ampas tahu yang sudah dikeringkan terlebih dahulu, untuk wadah pertama pupuk dibungkus dalam kain lalu diletakkan di atas waring. Untuk wadah kedua pupuk di tebar secara merata di permukaan lumpur.
9.      Ditambah air kesetiap wadah dengan ketinggian  2 cm dari permukaan media lalu didiamkan beberapa jam untuk dipermentasi.
10.  Ditebar bibit cacing sutera ke wadah pertama dan wadah ke dua.
3.4 Analisa Data
·         Biomassa Mutlak dihitung menggunakan rumus Weaterley (1972)
               W = Wt – WO
Keterangan :
  W   :  Pertumbuhan  mutlak (g)
   Wo  :  Biomassa pada awal praktikum
    Wt  : Biomassa pada akhir praktikum (gr)
·         Media waring
              W =  Wt  - WO
                            =  5 (g)  –  0,31 (g)
              W =  4,69 gram

·         Media lumpur
               W = Wt - WO
                               = 10 (g)  - 0,66 (g)
                     = 9,34 gram













BAB 1V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Pengamatan
            Praktikum yang telah dilakukan mendapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Tingkat Kelangsungan Hidup Cacing Sutera Pada Berbagai Media Penanganan
No.
       Media
Berat Awal (Wo)
Berat Akhir (Wt)
Pertumbuhan mutlak (W)
1.
Waring
5 gram
0,31 gram
4,69 gram
2.
Lumpur
10 gram
0,66 gram
9,34 gram
5.2 Pembahasan
            Cacing Sutra (Tubifex sp.) atau cacing rambut merupakan salah satu jenis pakan alami yang sesuai untuk pakan larva ikan hias maupun ikan konsumsi. Cacing Tubifex sp. ini biasanya hidup di saluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan organik yang dijadikan makanannya.
Dari data hasil praktikum dapat kita lihat berat awal pada waring 5 gram dan lumpur 10 gram,dan berat akhir pada waring 0,31 gram dan lumpur 0,66 menunjukkan bahwa hasil yang di dapatkan tidak sesuai dengan yang di tebar  ini di sebabkan oleh kurangnya pengontrolan dalam pemberian pakan pada cacing sutra. Penanganan-penanganan yang dilakukan berpengaruh pada ketahanan cacing sutera. Perubahan lingkungan menjadi faktor utama yang menentukan ketahanan cacing selama perlakuan dibandingkan dengan faktor lain seperti gangguan patogen. Sehingga, penanganan yang dilakukan harus memberikan lingkungan yang baik dan pengontrolan pakan yang baik bagi cacing.
Dari data hasil pengamatan dapat dilihat bahwa media yang terbaik untuk pertumbuhan cacing sutera adalah media lumpur di karenakan media lumpur mempunyai subtrat yang sangat banyak sehingga dapat menjadi cadangan makanannya. Sedangkan pada media waring cacing hanya mengandalkan makanan dari ampas tahu dan kotoran ayam yang di bungkus dengan kain. Kemungkinan yang terjadi tidak bagusnya pertumbuhan cacing sutera dipengaruhi oleh air, karena air merupakan indikator pencemaran yang dapat menghalangi pertumbuhan cacing sutera. Selama proses pemeliharaan cacing sutera yang kami lakukan dalam 2 minggu pertama air masih bersih sedangkan untuk keselanjutnya air sudah mulai keruh dikarenakan kurangnya pengontrolan, hal ini di sebabkan karena tempat praktikum yang jauh sehingga praktikan susah untuk melakukan pengontrolan.  













BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam pengamatan praktikum ini adalah sebagai berikut :
·         Cacing tubifex sp ini biasanya hidup di saluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan organik yang dijadikan makanannya.
·         Cacing sutra yang dibudidayakan di media waring mengalami pertumbuhan 0,31 gram sedangkan lumpur 0,66 gram, menunjukan bahwa hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang ditebarkan hal ini disebabkan karena kurangnya pengotrolan.
·         media yang terbaik untuk pertumbuhan cacing sutera adalah media lumpur di karenakan media lumpur mempunyai subtrat yang sangat banyak sehingga dapat menjadi cadangan makanannya
·         media waring cacing hanya mengandalkan makanan dari ampas tahu dan kotoran ayam yang di bungkus dengan kain
5.2 Saran
·         Tempat praktikum harus lebih terjangkau dari kampus.





DAFTAR PUSTAKA
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 2. Direktorat Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional.
Priyambodo, K dan Wahyuningsih, T. 2001. Budidaya Pakan Alami Untuk Ikan. PT Penebar Swadaya, Jakarta.
Goodnight, C.J. 1959. Oligochaeta. In W.T. Edmonson. Freshwater Biology. John Wiley and Sons, Inc. Hal : 522-537
Wilmoth, J.H. 1967. Biological of Invertebrate. PrenticeHall, Inc. Englewaood Cliffs. Neww Yersey. 465 hal.
Rogaar, H. 1980. The Morphology of Burrow Strukturres Made by Tubificids . Hydrobiologia 71 : 107 – 124
Pennak, R. W. 1978. Freshwater Invertebrates of The United States. A Wiley Intescience Publication. Jhon Willey and Sons, New York.
Kosiorek, D. 1974. Development Cycle of  Tubifex Tubifex Muller in Experimental Culture. Pol. Arch. Hidrobiol. 21 (3/4) : 411 – 422.
Marian, M. P. Dan T. J. Pandian. 1984. Culture and Harvesting Tehnique for Tubifex Tubifex. Aquaculture. 42 : 303 – 315
Efiyanti, W. 2003. Pemanfaatan Ulang Limbah Organik Usaha Cacing Sutera. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Monakov, A. V. 1972. Review of students on Feeding of Aquatic Invertebrates Conducted at The Instituts  of Biology of Inland Waters. Academy of Sciences. Ussr. J Fish. Res. Bd. Canada. 29 : 363 – 383
Isyaturradhiyah. 1992. Pertumbuhan Populasi dan Biomassa Tubifex sp. Pada Wadah Yang Dialiri Ir Limbah dan Budidaya Tubifex sp. dengan Panjang 3, 6 dan 9 meter. Skripsi Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor.
Syarip, M. 1988. Pengaruh Frekuensi Pemberian Pupuk  Terhadap Pertumbuhan Tubifex sp. Skripsi Fakultas Perikana Institut Pertanian Bogor.
Yuherman, 1987. Pengaruh Dosis Penambahan Pupuk Pada Hari Kesepuluh Setelah Inokulasi Terhadap Pertumbuhan Populasi Tubifex sp. Skripsi Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.