Laporan Praktikum MK Budidaya Pakan Alami
BUDIDAYA
cacing sutera (Tubifex sp.)
Dengan
perbedaan media waring dan Lumpur
Di susun
oleh :
Kelompok 5 : Reviendra
Safaringga
Zulfikar
Kinang
Kiki rizky
ananda
Mutiara tam
M. Mulqan
Ichsan
pratama
Sri wahyuni

JURUSAN
BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS KELAUTAN DAN
PERIKANAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2015
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr .Wb.
Syukur
Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT yang dengan hidayah-Nya saya
telah menyelesaikan Laporan Praktikum Mata Kuliah Budidaya
Pakan Alami (Tubifex sp.).
Kami mengucapkan terima kasih kepada
para asisten yang telah membimbing kami dalam kegiatan percobaan pada saat
praktikum, kami berharap dengan adanya laporan ini dapat membantu kami bagaimana untuk pembuatan wadah sampai menebar
bibit dan panen cacing sutera.
Kami menyadari mungkin masih banyak
kekurangan dalam membuat sebuah laporan hasil dari analisa data, untuk itu kami menunggu kritik dan saran yang
membangun untuk menambah kekualitasan sebuah laporan hasil dari sebuah
penelitian atau pengamatan.
Darussalam,
23 Desember 2014
Penyusun
Kelompok 5
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
DAFTAR TABEL..................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2
Tujuan Praktikum..................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 3
BAB III METODELOGI KERJA........................................................................... 5
3.1 Waktu
dan Tempat................................................................................... 5
3.2 Alat dan Bahan........................................................................................ 5
3.3 Cara Kerja................................................................................................ 6
3.4 Analisa
Data............................................................................................. 6
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................ 7
4.1 Hasil
Pengamatan..................................................................................... 7
4.2 Pembahasan............................................................................................. 7
BAB V PENUTUP................................................................................................... 10
5.1 Kesimpulan .............................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 11
LAMPIRAN..............................................................................................................
DAFTAR TABEL
Tabel. 1 Alat dan Bahan 5
Tabel. 2 Tingkat Kelangsungan Hidup Cacing
Sutera Pada Berbagai Media Penanganan 8
DAFTAR
GAMBAR
Gambar. 1 Bagian tubuh ikan Nila yang
terinfeksi oleh bakteri A. hydrophilla 9
Gambar. 2 Organ tubuh ikan bagian dalam
yang mengalami (dropsi) 10
Gambar. 3 Gejala yang timbul pada ikan Nila
yang masih bertahan hidup 11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah
satu jenis pakan alami yang sangat yang dibutuhkan oleh para pembudidaya ikan
hias maupun ikan konsumsi adalah cacing sutra Tubifex sp. Kebutuhan
cacing sutra sangat meningkat khususnya pada tahap pembenihan. Selama ini produksi cacing sutra yang dilakukan oleh
para pencari cacing sutra hanya mengandalkan tangkapan dari alam. Kendala utama
dalam mencari cacing sutra adalah faktor musim. Produksi cacing sutra menurun
pada saat musim hujan, karena arus kuat yang dapat menghanyutkan cacing sutra
yang berada di selokan/got. Musim kemarau juga dapat membuat produksi cacing
sutra menurun dikarenakan air kering dan cacing sutra mati.
Seiring
berkembangnya usaha pembenihan ikan, permintaan cacing sutra semakin meningkat,
namun terbatasi oleh ketersediaan cacing sutra yang pasang surut dengan sangat
fluktuatif. Produksi yang fluktuatif dapat berimbas pada harga cacing sutra
yang sangat tinggi dan akhirnya berimbas pada harga benih ikan.
Solusi
dari ketergantungan cacing sutra dari alam adalah dengan membuat usaha budidaya
cacing sutra. Selain itu usaha budidaya ini dapat menyediakan cacing sutra
secara berkelanjutan tanpa tergantung pada musim yang berlalu. Bahan organik
dengan komposisi kotoran ayam dan lumpur halus dapat dimanfaatkan sebagai media
tumbuh untuk cacing sutra. Untuk memenuhi kebutuhan makanan cacing dapat
dilakukan pemupukan ulang dengan menambahkan kotoran ayam dan ampas tahu, hal
ini juga dapat meningkatkan produksi populasi dan biomassa cacing sutra.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun
tujuan dilakukan praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui pengaruh media lumpur halus, pupuk kotoran ayam dan ampas tahu
terhadap pertumbuhan cacing sutra.
2.
Untuk mengetahui pengaruh media waring terhadap pertumbuhan cacing sutra.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Cacing Tubifex sp. sering disebut dengan cacing sutera, klasifikasi cacing sutera
menurut Gusrina (2008) adalah :
Filum : Annelida
Kelas : Oligochaeta
Ordo : Haplotaxida
Famili : Tubifisidae
Genus : Tubifex
Spesies: Tubifex sp.
Tubifex sp. dikenal dengan nama cacing
rambut atau cacing sutera merupakan jenis pakan alami yang disenangi oleh benih
ikan. Cacing Tubifex sp. ini biasanya
hidup di saluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan
mengandung banyak bahan organik yang dijadikan makanannya. Komposisi zat gizi
yang terdapat pada Tubifex sp. yaitu
protein 57%, lemak 13, 3% serat kasar 2,04% kadar air 87,19% dan kadar abu
3,6%. Tubuh cacing Tubifex sp. berukuran 5-15 mm, segmen-segmen tidak
tampak (Priyambodo, 2000).
Cacing
sutra memiliki segmen pada tubuhnya dan merupakan cacing air tawar (Goodnight,
1959). Umumnya cacing sutra membuat tabung pada dasar perairan dimana bagian
posterior tubuhnya menonjol keluar dari tabung bergerak bolak-balik dengan
melambai-lambai secara aktif di dalam air, sehingga terjadi sirkulsi air lalu
ia akan mendapatkan oksigen melalui permukaan tubuhnya. Bagian posterior tubuh yang bergetar pada
cacing sutra dapat membantu pernafasan
(Wilmoth, 1967). Pengambilan oksigen terjadi pada bagian posterior tubuhnya
sehingga Tubificid dapat bertahan beberapa hari bahkan beberapa minggu pada
kondisi anaerobik (Rogaar, 1980).
Cacing
sutra yang termasuk famili Tubificidae bereproduksi secara sexsual antara dua
individu sama halnya dengan cacing tanah (Pennak, 1978). Kokon merupakan
kantong telur yang telah dibuahi dan
kokon berisi rata-rata 4,15 telur. Panjang kokon 1,0 mm dengan diameter 0,7 mm
dan berbentuk oval (Kosiorek, 1974). Menurut Kosiorek (1974), waktu yang
dibutuhkan untuk perkembangan mulai dari telur hingga menjadi cacing muda
sekitar 10-12 hari pada 24oC. Siklus hidup mulai dari penetasan
hingga dewasa dan meletakkan kokonya yang pertama membutuhkan waktu 40-45 hari,
sehingga siklus hidup dari telur menetas hingga menjadi dewasa dan bertelur
lagi membutuhkan waktu 50-57 hari.
Budidaya cacing sutera dapat dilakukan pada
media organik, yaitu dalam campuran kotoran sapi (75%) dan pasir halus (25%)
dengan waktu pemeliharaan 42 hari (Marian dan Pandian, 1984). Efiyanti (2003)
membudidayakan cacing sutera menggunakan substrat yang berupa lumpur, kotoran
ayam dan limbah usaha penangkapan cacing dengan populasi tertinggi didapat pada
berat limbah organik 1000 gr pada hari ke 20.
Menurut
Pondubnaya dan Sorokin (1961) dalam Monakov (1972) cacing tersebut hanya makan
pada lapisan tipis di bawah permukaan pada kedalaman 2 cm – 5 cm. Dijelaskan
pula bahwa pada lapisan tersebut banyak zat-zat makanan yang tertimbun akibat
dekomposisi anaerobik. Jumlah makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh cacing sutera rata-rata 2-8
kali bobot tubuh (Monakov, 1972). Cacing
sutera mencari makan dengan cara masuk ke dalam sedimen, beberapa sentimeter
dibawah permukaan sedimen dan memilih bahan makanan yang kecil serta lembek
(Morgan, 1980 dalam Isyaturradhiyah, 1992).
Tingginya bahan organik dalam media akan meningkatkan jumlah bakteri dan partikel organik hasil
dekomposisi oleh bakteri sehingga dapat meningkatkan jumlah bahan makanan pada
media yang dapat mempengaruhi populasi dan biomassa cacing (Syarip, 1988). Pemupukan
dapat dilakukan dengan memasukkan kotoran ayam yang dilakukan pada hari
kesepuluh setelah inokulasi dengan perkiraan pupuk yang diberikan sebelumnya
sudah mengalami dekomposisi (Yuherman, 1987).
BAB III
METODELOGI KERJA
3.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini berlangsung di Laboratorium basah Panteriek
Banda Aceh, yang dimulai dari tanggal 01 April 2015 pembuatan wadah, dan
penebaran cacing sutera pada tanggal 11 April 2015 pada pukul 12.21 WIB. Lama
pemeliharaan cacing sutera sekitar 1 bulan penuh, sehingga panen cacing sutera
dilakukan pada tanggal 13 Mei 2015 pada pukul 10.46 -14.30.
3.2
Alat dan Bahan
Adapun
alat dan bahan yang dapat digunakan dan mendukung pada saat praktikum adalah
sebagai berikut :
Tabel. 1 Alat dan Bahan
|
No.
|
Nama
Alat dan Bahan
|
Fungsi
|
|
1
|
Kayu
|
Kerangka wadah
|
|
2
|
Paku
|
Perekat kerangka
|
|
3
|
Palu
|
Alat bantu untuk menancapkan paku
|
|
4
|
Bor
|
Untuk membuat lubang pada kayu
|
|
5
|
Terpal
|
Tempat media
|
|
6
|
Waring
|
Media
|
|
7
|
Lumpur
halus
|
Media
|
|
8
|
Ampas
tahu
|
pupuk
|
|
9
|
Kotoran
ayam
|
pupuk
|
|
10
|
Air
|
media
|
|
11
|
Kain
|
Pembungkus pupuk
|
|
12
|
Pipa
|
Jalan air mengalir
|
|
13
|
Pompa
air
|
Untuk memompa air
|
|
14
|
Filter
air
|
Menyaring air agar tetap bersih
|
|
15
|
Cacing
sutera
|
Untuk ditebar sebagai bibit
|
3.3
Cara Kerja
Adapun
cara kerja untuk untuk persiapan pembuatan wadah untuk budidaya pakan cacing
sutera adalah sebagai berikut :
1. Dipilih
kayu yang akan digunakan sebagai kerangka wadah.
2. Diukur
dan dipotong kayu sesuai dengan kebutuhan.
3. Dibuat
kerangka wadah sesuai dengan ukuran yang
dibutuhkan yaitu : panjang wadah 80 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 20 cm, sebanyak
3 wadah, wadah pertama sebagai tempat media waring, wadah kedua tempat
media lumpur halus dan wadah ketiga untuk tempat penampung air yang akan dialirkan ke wadah pertama dan kedua.
4. Dipasang
terpal sebagai tempat media.
5. Dilubangi
terpal dan dipasang pipa sebagai outlet dan inlet air.
6. Dipotong
waring lalu dipasang pada wadah pertama.
7. Ditabur
lumpur halus sebanyak 3 cm pada wadah
kedua.
8. Dihaluskan
kotoran ayam lalu dicampur dengan ampas tahu yang sudah dikeringkan terlebih
dahulu, untuk wadah pertama pupuk dibungkus dalam kain lalu diletakkan di atas
waring. Untuk wadah kedua pupuk di tebar secara merata di permukaan lumpur.
9. Ditambah
air kesetiap wadah dengan ketinggian 2
cm dari permukaan media lalu didiamkan beberapa jam untuk dipermentasi.
10. Ditebar
bibit cacing sutera ke wadah pertama dan wadah ke dua.
3.4 Analisa Data
·
Biomassa Mutlak dihitung menggunakan rumus
Weaterley (1972)
W = Wt – WO
Keterangan :
W : Pertumbuhan
mutlak (g)
Wo
: Biomassa pada awal
praktikum
Wt
: Biomassa pada akhir praktikum (gr)
·
Media waring
W = Wt - WO
= 5 (g)
– 0,31 (g)
W = 4,69 gram
·
Media lumpur
W = Wt - WO
= 10 (g) - 0,66 (g)
= 9,34 gram
BAB 1V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil
Pengamatan
Praktikum
yang telah dilakukan mendapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Tingkat Kelangsungan Hidup Cacing Sutera
Pada Berbagai Media Penanganan
|
No.
|
Media
|
Berat Awal (Wo)
|
Berat Akhir (Wt)
|
Pertumbuhan mutlak (W)
|
|
1.
|
Waring
|
5 gram
|
0,31 gram
|
4,69 gram
|
|
2.
|
Lumpur
|
10 gram
|
0,66 gram
|
9,34 gram
|
5.2
Pembahasan
Cacing
Sutra (Tubifex sp.) atau cacing
rambut merupakan salah satu jenis pakan alami yang sesuai untuk pakan larva
ikan hias maupun ikan konsumsi. Cacing Tubifex
sp. ini biasanya hidup di saluran
air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan
organik yang dijadikan makanannya.
Dari data
hasil praktikum dapat kita lihat berat awal pada waring 5 gram dan lumpur 10
gram,dan berat akhir pada waring 0,31 gram dan lumpur 0,66 menunjukkan bahwa
hasil yang di dapatkan tidak sesuai dengan yang di tebar ini di sebabkan oleh kurangnya pengontrolan
dalam pemberian pakan pada cacing sutra. Penanganan-penanganan yang dilakukan
berpengaruh pada ketahanan cacing sutera. Perubahan lingkungan menjadi faktor
utama yang menentukan ketahanan cacing selama perlakuan dibandingkan dengan
faktor lain seperti gangguan patogen. Sehingga, penanganan yang dilakukan harus
memberikan lingkungan yang baik dan pengontrolan pakan yang baik bagi cacing.
Dari data
hasil pengamatan dapat dilihat bahwa media yang terbaik untuk pertumbuhan
cacing sutera adalah media lumpur di karenakan media lumpur mempunyai subtrat
yang sangat banyak sehingga dapat menjadi cadangan makanannya. Sedangkan pada
media waring cacing hanya mengandalkan makanan dari ampas tahu dan kotoran ayam
yang di bungkus dengan kain. Kemungkinan yang terjadi tidak bagusnya
pertumbuhan cacing sutera dipengaruhi oleh air, karena air merupakan indikator
pencemaran yang dapat menghalangi pertumbuhan cacing sutera. Selama proses
pemeliharaan cacing sutera yang kami lakukan dalam 2 minggu pertama air masih
bersih sedangkan untuk keselanjutnya air sudah mulai keruh dikarenakan
kurangnya pengontrolan, hal ini di sebabkan karena tempat praktikum yang jauh
sehingga praktikan susah untuk melakukan pengontrolan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dalam pengamatan praktikum ini adalah sebagai berikut :
·
Cacing tubifex sp ini biasanya hidup di saluran
air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak
bahan organik yang dijadikan makanannya.
·
Cacing sutra yang dibudidayakan di media waring
mengalami pertumbuhan 0,31 gram sedangkan lumpur 0,66 gram, menunjukan bahwa
hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang ditebarkan hal ini disebabkan
karena kurangnya pengotrolan.
·
media yang terbaik untuk pertumbuhan cacing
sutera adalah media lumpur di karenakan media lumpur mempunyai subtrat yang
sangat banyak sehingga dapat menjadi cadangan makanannya
·
media waring cacing hanya mengandalkan makanan
dari ampas tahu dan kotoran ayam yang di bungkus dengan kain
5.2 Saran
·
Tempat praktikum harus lebih terjangkau dari
kampus.
DAFTAR PUSTAKA
Gusrina.
2008. Budidaya Ikan Jilid 2.
Direktorat Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan. Direktorat Jendral
Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional.
Priyambodo,
K dan Wahyuningsih, T. 2001. Budidaya
Pakan Alami Untuk Ikan. PT Penebar Swadaya, Jakarta.
Goodnight,
C.J. 1959. Oligochaeta. In W.T. Edmonson. Freshwater
Biology. John Wiley and Sons, Inc. Hal : 522-537
Wilmoth,
J.H. 1967. Biological of Invertebrate.
PrenticeHall, Inc. Englewaood Cliffs. Neww Yersey. 465 hal.
Rogaar,
H. 1980. The Morphology of Burrow
Strukturres Made by Tubificids . Hydrobiologia 71 : 107 – 124
Pennak,
R. W. 1978. Freshwater Invertebrates of
The United States. A Wiley Intescience Publication. Jhon Willey and Sons,
New York.
Kosiorek,
D. 1974. Development Cycle of Tubifex Tubifex Muller in Experimental
Culture. Pol. Arch. Hidrobiol. 21 (3/4) : 411 – 422.
Marian,
M. P. Dan T. J. Pandian. 1984. Culture
and Harvesting Tehnique for Tubifex Tubifex. Aquaculture. 42 : 303 – 315
Efiyanti,
W. 2003. Pemanfaatan Ulang Limbah Organik
Usaha Cacing Sutera. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor.
Monakov,
A. V. 1972. Review of students on Feeding
of Aquatic Invertebrates Conducted at The Instituts of Biology of Inland Waters. Academy of
Sciences. Ussr. J Fish. Res. Bd. Canada. 29 : 363 – 383
Isyaturradhiyah.
1992. Pertumbuhan Populasi dan Biomassa
Tubifex sp. Pada Wadah Yang Dialiri Ir Limbah dan Budidaya Tubifex sp. dengan Panjang 3, 6 dan 9 meter.
Skripsi Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor.
Syarip,
M. 1988. Pengaruh Frekuensi Pemberian
Pupuk Terhadap Pertumbuhan Tubifex
sp. Skripsi Fakultas Perikana Institut Pertanian Bogor.
Yuherman,
1987. Pengaruh Dosis Penambahan Pupuk
Pada Hari Kesepuluh Setelah Inokulasi Terhadap Pertumbuhan Populasi Tubifex
sp. Skripsi Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.